Minggu, 28 September 2014

woles dulu lah

Disela-sela kesibukan sebagai panitia event yang lagi bingung nyari pemateri, gue sempatin mengikuti berita politik yang lagi hot di negara kita tercinta, INDONESIA.
Gak ada pemilukada, DPRD yang bakal milih kepala daerah
hooooot
seperti berita hot yang lain, bakal muncul efek berantainya
satu orang yang sok tahu mulai update status di twitter, facebook, friendster, dll tentang bagaimana kebijakan ini sudah merampas hak kita sebagai warga negara, Pak SBY sudah mengkhianati rakyat dengan menandatangani kebijakan ini, bla bla bla

dan sebagaimana kebanyakan orang Indonesia yang terkenal karena sifat 'LATAH'nya yang turun temurun, mulai banyak yang ikut-ikutan menolak kebijakan ini tapi gak tahu apa-apa
mulai banyak (orang bego) yang update status maki-maki Presiden
mulai banyak yang demo menolak kebijakan tapi cuma sekedar diajak temen
mulai banyak yang demo demi nasi kotak dan upah keringet 
tapi gak tahu apa yang diperjuangkan dan kenapa
cuma teriak-teriak bego, ikut demo biar kelihatan keren sama gebetannya, pengen masuk tivi biar begonya ada kesempatan go internasional 

kayaknya gak ada keinginan sedikitpun buat mikir "apa kebijakan ini bener? apa Indonesia selama ini memang udah pantes buat demokrasi? hah kenaaapah?"

mestinya kita gak perlu lah jadi terlalu 'liar' gara-gara kebijakan ini, malah gue ngerasa momen ini sebagai titik balik kita untuk mempersiapkan Indonesia yang bener-bener demokrasi, bener-bener yang dari oleh untuk rakyat
bukannya demokrasi-demokrasian kayak yang udah-udah

"apane seng demokrasi? Indonesia iki sek durung siap gawe demokrasi"
-KH.Anwar Zahid
(apanya yang demokrasi? Indonesia ini masih belum siap buat demokrasi)
begitulah yang beliau katakan di salah satu ceramahnya 

gue setuju, karena negara kita ini bukan negara multitasking
Indonesia kita ini gak bisa nyelesaikan satu masalah sambil melakukan hal lain dalam satu kegiatan
kita berusaha menyelesaikan satu masalah, masalah yang lain muncul dan membesar, pindah ke masalah lain, yang lainnya tambah parah
gitu terus sampai kiamat
niat kita menyelesaikan malah memperparah

Jadi, menurut gue, akan lebih baik kalo kita selesaikan masalah yang ada di pemilukada dengan menghentikan dulu satu periode dan mulai memperbaiki lubangnya satu persatu sebelum kembali dijalankan nantinya

uang rakyat yang sebelumnya dialokasikan buat pemilukada bisa dialihkan untuk hal lain, kayak pendidikan misalnya, yang sampai sekarang kurang perhatian walau tangisan anak-anak yang gak bisa sekolah gak henti-hentinya terdengar

mungkin ini gara-gara nasib gue yang selalu apes, jadi membentuk pribadi yang melihat suatu musibah dari sisi baiknya

gue gak akan minta semua orang buat niru gue, karena menjadi orang biasa di jaman sekarang aja udah cukup sulit apalagi jadi orang apes
tapi paling gak tolong jangan terlalu LIAR kalo mengkritik sesuatu dan pikir matang-matang dulu kalo mau koar-koar
malu rek, 
Bapak SBY, (masih) presiden tecinta kita, yang gak sampai sebulan yang lalu dipuja-puja atas apa yang telah dilakukan beliau selama 2 periode kepresidenan, sekarang jadi bahan hinaan terpopuler di Twitter
miris
gue bukan pendukung pak SBY, tapi sebagai orang Indonesia, ngelihat Presiden sendiri dihina rakyatnya terus dijadikan tontonan dunia rasanya agak ngilu di ulu hati

gue gak setuju kebijakan ini jadi permanen tapi untuk penyegaran atau titik introspeksi kita bolehlah dicoba untuk satu periode dan dikaji lagi di periode berikutnya.

Woles dulu lah
 

2 komentar:

  1. setuju,tak sepantasnya kita menghina seseorang yang telah berjasa di negara tercinta ini.

    BalasHapus
  2. Kak Dewangga Rahastyo, suka ikuti berita politik ya? saya pribadi pingin muntah dan marah-marah kalo lihat tingkah laku anggota DP yang super duper AJAIB! Ya kita tunggu aja kinerja mereka lima tahun kedepan.

    INDONESIA LUAR BIASA KEREN

    BalasHapus