Jumat, 29 Juli 2016

Tembok dan Taman

Membandingkan tembok dan taman memang tidak wajar, karena berbeda dan benar-benar berbeda.

Tetapi menyatukannya iramanya dalam satu tujuan bukanlah hal yang mustahil, walaupun sulit dan pasti sulit, tapi sejatinya menyamakan ritme, memang haruslah sulit, jika itu mudah maka tidak ada lagi pemberontakan, perceraian, konflik, apapun itu yang melibatkan ego dua pihak.
Mau mencoba mengharmonikan tembok dan taman?


Mencintai itu harusnya bukan seperti melempar bola ke tembok, tapi seperti main lempar tangkap di taman.

Bukan satu pihak melempar dan pihak lain diam, not give and take, but give-catch-give.


Berikan cinta, terima apa adanya, berikan lagi dengan lebih indah, begitu seterusnya.


Mencintai itu harusnya bukan melihat tembok kosong, secerah apapun catnya, itu tetaplah sempit terbatas dan tidak nyata.

Mencintailah seperti memandang taman yang luas, penuh warna hijau dengan berbagai intensitas, dari pohon dari daun dari ranting bahkan dari senja yamg menghijau.


Mencintai itu meluaskan hatimu, seluas-luasnya dan membiarkannya berputar berlarian di dalamnya sampai nantinya menetap selamanya disana.

Buka matamu, jika masih belum bisa meluaskan hatimu, pejamkan dan buka lebar-lebar semua inderamu.

Dengarkan dan rasakan, bahkan hijaunya pun terdengar mengindahkan, hijaunya terasa menyentuh lembut menguatkan.
Seperti Itulah seharusnya mencintai.


Mengindahkan-menyentuh-lembut-menguatkan.


Tapi mencintailah seperti tembok, yang kamu hias dengan foto indah, tulisan penenang dan penyemangat, pernak pernik hiasan menarik, yang pudar sedikit saja sudah  dicat kembali, bukan seperti taman yang menunggu surat keluhan segunung dan segepok laporan agar kamu beranjak untuk merawatnya.

Tidak ada kata terlambat dalam mencintai, tapi waktu yang tepat sulit dicari, jadi bersiaplah selalu, ciptakan waktu yang tepat itu, dan hartakarun-kan itu dalam setiap keping darahmu.

0 komentar:

Posting Komentar