Rabu, 15 Juni 2016

Alun-alun kota part 2


Kembali lagi berputar-putar mencari lokasi duduk yang nyaman, kali ini bukan koran yang akan dibaca, karena manusia mahluk yang berakal cerdas dan bisa belajar dari pengalaman, maka kali ini buku novel setebal kira-kira 260 halaman yang dibawa. 

Belajar dari pengalaman adalah hal yang lumrah dan wajib bagi manusia, mengolah data pengalaman menjadi sebuah informasi untuk menghindari kesalahan yang sama di masa yang akan datang. 
Itu lumrahnya, tapi manusia juga diberi hati untuk melawan informasi dari data.
Iya, jadi Allah menciptakan di dalam diri manusia ada 2 hal yang berbeda, keduanya pun tidak dibentuk secara sembarangan, melainkan seperti puzzle, setiap lekukannya dibentuk sehingga cocok satu sama lain, jika dipasangkan dengan cara dan posisi yang pas. 
Perlu usaha pasti, burung dara pup aja perlu usaha, but it's something worthy to try.

Bukan yang nyoba pup burung dara, tapi menyatukan sesuatu yang berbeda untuk saling melengkapi.

Siang itu langit cukup terik, walaupun 1 jam lebih mulai dari saat itu langit akan 'memendung' sebagai bel tanda pulang, 
tapi siang itu sudutnya cukup untuk meminimalkan jumlah bayangan tempat berteduh.

Hampir semua tempat yang berbayang rindang sudah ditempati.
Kalaupun ada itu juga posisinya di tengah-tengah gerombolan orang, di sebelah kiri ada sekeluarga besar dari beberapa generasi, sedangkan di sebelah kanannya ada gerombolan anak-anak sok gede pada rame adu foto selfie.

ngeliat aja udah sumpek

Hampir satu lingkaran penuh berputar, masih belum ada tempat yang cocok dan nyaman untuk diduduki.
tapi ketika sudah hampir menyerah dan mulai muncul pikiran untuk pulang, ada bangku kosong yang berkilauan tepat setelah berputar satu lingkaran
terlihat nyaman dan menenteramkan
(mungkin) seperti itu lah juga cinta, malah ketika kita berada di titik terendah keputusasaan dan ketidakpercayaan, (mungkin) saat itu lah keajaiban muncul.

dan saat ini, (mungkin) aku sudah menemukan 'bangku' itu, 
aku juga sudah berputar entah berapa lingkaran sambil menunggu, sambil berharap (mungkin (keajaiban  itu datang membantu (lagi))).

Bangku kosong tadi sekarang sudah terisi, oleh sesosok mahluk dengan sebotol minuman di tangan kiri, tangan kanan mengeluarkan buku dari dalam tasnya, dan telinga tersumbat headset pinjaman berbunyi cukup keras, sengaja
aneh memang
mencari tempat membaca yang ramai, tapi menutup telinga dari keramaian
seakan ingin melarikan diri tanpa meninggalkan
 ingin melepas rindu tanpa memetiknya
Bangku ini cukup nyaman pada awalnya tapi setelah pengamatan beberapa detik ternyata tidak sesempurna yang diharapkan
ada serangga berpatroli, saling menyapa dengan segerombolan semut
ada juga beberapa bagian bangku yang memutih
bisa jadi bekas cat atau pup burung dara atau bekas pup burung dara yang dicat

not as comfortable as it should be, right?

lalu kenapa masih bertahan disana? tidak mencari yang lain?
Karena kamu sudah memilihnya
Bukankah rasa bahagiamu berkat pertemuan ini seharusnya masih tersisa?
masih membara?
Semua hal diciptakan untuk tidak sempurna
jadi kenapa tidak mencintai ketidaksempurnaan itu?

hari ini pun alun-alun cukup ramai, tapi agak berbeda dengan sebelumnya hari ini didominasi oleh pasangan ayah-ibu-anak

entah menurut kalian, tapi melihat pemandangan itu cukup menenangkan bagi seorang perantau 

satu demi satu halaman dibuka, novel ini tentang pencuri cerdik-jenius berprinsip yang menyenangkan untuk diikuti kisah-kisahnya.

Setiap hampir terhanyut ke dalam alur kisahnya, angin alun-alun semakin kuat merayu untuk sejenak menaikkan pandangan dan melihat sekitar, 
setelah pergelutan sepanjang 6 halaman akhirnya aku menyerah, 
pilihan untuk melihat sekitar terasa tidak buruk

Ada trio ayah-ibu-anak kecil yang paling dekat untuk diamati, si anak kecil (cowok) bermain dengan plastik kresek hitam yang diayun-ayunkan angin sambil tertawa riang
si ayah mengikuti dengan sabar di belakangnya, santai tapi waspada menjaga harta karunnya, 
sedangkan si ibu melihat mereka sambil duduk ditemani tas dan bekal, tersenyum tertawa melihat tingkah 2 prianya itu
Kasih sayang meledak-ledak membabi buta dari pemandangan ini

Cukup yakin bahwa pilihan melihat sekitar adalah pilihan yang tidak tepat, pandangan kembali tenggelam dalam novel di tangannya
berlembar-lembar melewati jarinya

ada sesosok batman kecil di ujung mata yang tiba-tiba mengganggu penyelamannya
batman kecil yang tadi berkeliaran diikuti ayahnya sekarang berlari-lari sendirian

berusaha terbang tanpa peralatan canggihnya
batman kecil ini terjatuh di rerumputan
kaget sejenak, dan sambil tersenyum melihat ke belakang

kosong

tidak ada si ayah yang mengekornya seperti tadi

senyumnya berubah
dari senyum ceria menyenangkan
menjadi senyum dipaksakan dan terkesan menghibur diri sendiri
menguatkan perasaannya sendiri
menjaga opininya, bahwa sesuatu itu masih ada
sesuatu itu masih disana bersamanya

senyum itu memeluk erat hatinya
menjaga sesuatu yang sudah tidak ada
melihat ini, tentu saja aku menyebar pandangan mencari si ayah dan si ibu
ternyata mereka ada di kejauhan, mengawasi batman kecilnya
merasa sudah terlalu jauh untuk melatih batmannya, si ayah datang menjemput
dan perlahan senyum batman kecil ini semakin terang, dia lega

mereka pun berjalan menjauh
mendung perlahan mendekat, membesar
rasanya perasaanku sudah cukup dipermainkan alun-alun hari ini

Terima kasih sendunya siang ini

0 komentar:

Posting Komentar