Agak mencurigakan memang kalau melihat anak muda ( atau pemuda jika anak muda kurang begitu cocok dengan kumis dan jenggor tipis ini), duduk sendirian di alun-alun kota, siang hari yang teduh karena angka manapun yang ditunjuk oleh jarum jam jika badan belum cukup kuat untuk bangkit dari tidur itu tetap saja (masih) pagi hari, dengan keadaan di mana begitu banyaknya masalah moral di Indonesia saat ini.
Terorisme, kejahatan seksual, anarkisme, narkotika, dll dst dsb
cukup banyak, bahkan jika perputaran uang yang diakibatkan oleh (hanya) 4 hal itu disalurkan untuk hal lain, kita bisa membiayai sekelompok Rio Hariyanto untuk membalap di F1 membawa nama Indonesia
Belum lagi jika ditambah dengan hasil dari kejahatan yang paling klise dan paling berbahaya di Indonesia, Korupsi
Kejahatan yang cukup menarik sampai dibentuk sekelompok orang yang bertujuan untuk menontonnya, Indonesia Corruption Watch
Kita mungkin bahkan bisa memperbaiki aspal jalan di seluruh Indonesia dengan semua uang itu, membiayai sekolah semua anak Indonesia setinggi-tingginya, menyetrumkan listrik ke semua rumah agar mereka tak perlu lagi hanya memandang siluet bayangan wajah keluarganya yang tersayang, dan banyak hal lain sampai ke imajinasi tergila, ter-tidak mungkin, terkhayal untuk mensejahterakan tanah air kita.
Pemuda tadi duduk di bangku yang dipayungi pohon rindang, ditemani sebotol soft drink, dan koran yang dibeli dari abang bertopi penjaja majalah. Masih menatap sekeliling, merasakan angin yang bertiup terburu-buru, keadaan yang kurang cocok untuk membaca koran. Alun-alun kota tentu saja berada di tengah kota, dan magisnya hanya akan kamu rasakan saat sendirian, sihir sebuah alun-alun kota yang meredam hiruk-pikuk ramainya jalan kota, bukan sihir 'muluk' yang menenangkan tapi sihir 'merendah' yang memberimu kesadaran dan kesempatan. Bukan sihir yang meniadakan masalahmu tapi sihir yang menyiapkan dirimu untuk masalah di kehidupan, memunculkan masalahmu dan men-zoom nya di kepalamu agar kamu sadar bahwa kamu harus menghadapinya, dan memberimu kesempatan untuk mencoba lagi dengan keyakinan kuat "Kamu Bisa".
Ada beberapa orang disana dan banyak dari mereka sepertinya keluarga yang datang menikmati alun-alun kota, entah apa yang sedang mereka rayakan. Bisa ulang tahun, liburan keluarga, masa cuti, masa gajian, atau mungkin merayakan rasa sayang mereka satu sama lain yang begitu besar dan indahnya. Simpel? Rasa syukur memang simpel, rasa syukur harus simpel, selain untuk menghindari perasaan anti-ribet nya manusia, juga karena dengan bersyukur untuk hal yang simpel akan menguatkan kita di hal yang kompleks.
Alun-alun kota ini cukup lengkap setelah direnovasi, bekas kotoran burung dara sudah jarang terlihat, rumput terpangkas cepak rapi, air mancur telah benar-benar memuncratkan air dan bukannya 'susu coklat' keruh, dan taman bermain yang sedang dibangun.
Keluarga yang datang pun bermacam-macam, ada sepasang suami istri yang memancarkan aura bahagia, sepasang yang lain lewat juga dan tidak mau kalah untuk menyebarkan aura bahagia ke sekelilingnya, ada sebaris keluarga lengkap yang sedang berlibur dipimpin oleh beberapa ibu-ibu di depan dan diakhiri oleh seorang bapak yang terlihat tidak antusias di belakang, ada sepasang suami istri dan anaknya bermain-main dengan pistol berlampu, dan ada beberapa kakek yang bermain bersama cucunya
a calming scenery for your hard life, right buddy?
khususnya untuk bagian yang
......... beberapa kakek yang bermain bersama cucunya
Pemandangan yang melengkapi magis alun-alun kota hari itu, melengkapi dengan rasa menyejukkan kasih sayang khas rumah kampung halaman tercinta, senyum bahagia kakek dan cucu yang memaksa sudut-sudut senyum kita untuk tertarik, menayangkan paksa memori indahnya rumah dan hangatnya keluarga untuk mondar-mandir di kepala.
Menyenangkan mengingatnya, dan sedikit ngilu karena belum bisanya pemuda ini membahagiakan keluarganya di rumah.
Oh ya satu hal tentang magis alun-alun kota, bahwa magisnya akan hilang pada satu waktu dan itu menandakan kamu harus pulang dan memulai kembali hidupmu.
Itu lah yang pemuda itu rasakan, perlahan-lahan suara ramainya jalan kota mulai masuk ke telinganya, angin berhembus menghindarinya, pantat sedikit panas, dan mulai muncul perasaan tidak nyaman.
Memang sejahat itu lah alun-alun kota, menyiapkanmu dengan lembut dan mengusirmu dengan keras,
benar-benar cocok untuk kita, manusia yang terkadang tertancap di zona nyaman dan melupakan zona yang lain yang harus dihadapi.
Manusia
Mahluk terkuat dan terlemah yang diciptakan Allah
Ada aja idenya Dewangga nulis ginian nih. Ga kepikiran. Good good.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus